HIMA PERSIS

qrcode

Selasa, 30 April 2013

KAJIAN SEMANTIK KONSEP “ULUL ‘ILMI” DALAM AL-QURAN

Oleh: 

Hilman Fitri*


Al-Quran diyakini oleh umat manusia sebagai kalamullah (firman Allah) yang mutlak benar, berlaku sepanjang zaman dan mengandung ajaran serta petunjuk tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia di dunia dan di akhirat nanti.Ajaran dan petunjuk al-Quran tersebut berkaitan dengan berbagai konsep yang amat dibutuhkan oleh manusia dalam mengarungi kehidupannya di dunia ini dan di akhirat kelak (Qardhawi, 1993: 11).

Ali an Nadawi (1981: 77) mengatakan bahwa Allah SWT mengutus Nabi Muhammad saw disertai turunnya al-Quran sebagai bukti kenabiannya yang paling besar di saat dunia dalam keadaan kacau-balau, segalanya jungkir balik, berantakan tak beraturan bagai dilanda gempa yang dahsyat. Pada saat itu pula manusia seakan-akan telah kehilangan kemausiaannya, tinggal sosok tubuh saja yang menyembah batu, pohon, atau kali, atau benda lain yang bahkan tak berarti apa-apa bagi dirinya sendiri.

Ketika menyikapi persoalan hidup yang dihadapi oleh umat Islam saat ini banyak yang berpendapat bahwa persoalan yang terbesar yang dihadapi oleh umat ini tidak lain ialah kekalahan dalam gelanggang politik. Maka penyelesaian yang ditawarkan pun tak jauh dari perkara berebut kekuasaan.

Namun ada sesuatu yang membuat penulis tertarik ketika membaca kutipan Wan Mohd (2003: 177) yang mengutip perkataan Syed Naquib al Attasdi mana beliau menyatakan bahwa persoalan kemunduran umat Islam, perkara utamanya, bukanlah persoalan kekalahan di gelanggang kekuasaan. Kemunduran umat sekarang ini disebabkan menyelempangnya ilmu yang dengan demikian menyebabkan ketiadaan adab. Pandangan beliau tentang ketiadaan adab dan kerusakan ilmu dapat dirumuskan sebagai berikut:
  1. Kebingungan dan kekeliruan persepsi mengenai ilmu pengetahuan, yang selanjutnya menciptakan:
  2. Ketiadaan adab dalam masyarakat. Akibat yang timbul dari butir pertama dan kedua adalah:
  3. Munculnya pemimpin yang bukan saja tidak layak memimpin ummat, melainkan juga tidak memiliki akhlak yang luhur dan kapasitas intelektual dan spiritual mencukupi, yang sangat diperlukan dalam kepemimpinan Islam. Mereka akan mempertahankan kondisi yang disebut dalam butir pertama di atas dan akan terus mengontrol permasalahan-permasalahan sosial-kemasyarakatan melalui tangan para pemimpin lain yang berwatak sama dengan mereka dan akan mendominasi berbagai sektor kehidupan.
Mengenai kebingungan dan kekeliruan persepsi mengenai ilmu pengetahuan inilah, yang mengharuskan seorang mahasiswa muslim tidak selayaknya hanya menjadi “pengumpul” pengetahuan tanpa memiliki sikap terhadap yang telah diketahui. Banyak di antara kita yang mengetahui banyak hal, akan tetapi tidak pernah tahu untuk apa kita mengetahui pengetahuan itu. Sehingga menurut Qarni (2006: 267) salah satu syarat mutlak sebuah keberhasilan dalam menguasai ilmu ialah adanya spesialisasi ilmu di mana seseorang mengenali kemampuan dan keahlian yang dimiliki, mengenai bidang yang sesuai dengan dirinya, kemudian mencurahkan segala kemampuan dan waktu yang dimiliki untuk menekuni bidang tersebut.

Walaupun spesialisasi itu sangat diperlukan sekali dalam keberhasilan memperoleh ilmu pengetahuan dengan matang. Namun alangkah sedihnya kita, kalau kita hanya menggeluti satu ilmu pengetahuan saja tanpa kita mempelajari bidang-bidang ilmu pengetahuan yang lainnya sebagai contoh ketika seseorang hanya menguasai ilmu gramatika bahasa saja, namun ia tidak mempelajari sosiolinguitik dan psikolonguistik ialah dahulu ada seseorang yang ahli dalam ilmu bahasa terperosok ke dalam jurang terus ada seseorang yang ingin menolongnya, namun dikarenakan ada kata-kata dari si penolong yang agak keliru kalau ditinjau dari segi kebahasaan lantas ia (si ahli bahasa) menegurnya untuk memperbaiki susunan kata-kata si penolong. 

Alangkah malang sekali ia, bukannya ia diselamatkan oleh si penolong tersebut akan tetapi ia malah dicampakkan begitu saja tanpa ditolong oleh si penolong tersebut karena kalimat pembenaran yang diucapkan oleh si ahli gramatika bahasa itu telah membuatnya tersinggung. Karena pada dasarnya kebanyakan manusia itu tidak menyukai untuk dikritik apalagi kalau dalam keadaan genting seperti itu. Oleh karena itu hendaknya kita mempelajari ilmu pengetahuan yang tidak hanya berhubungan dengan keagamaan saja namun harus dipelajari pula berbagai penemuan-penemuan yang ditemukan oleh para peneliti Barat, yang sebagaimana telah kita ketahui bahwa orang-orang Barat dahulu pun mereka mempelajari hasil penelitian-penelitian para ilmuwan Islam yang tidak hanya sebagai “pengumpul” saja akan tetapi mereka pun lalu mengkaji dan membuat inovasi dengan ditimbang berdasarkan cara pandang hidup mereka. Sehingga kita pun seharusnya menimbang segala pengetahuan yang telah kita terima dengan pandangan hidup kita sendiri, pandangan hidup Islam (Worldview of Islam, Mabda’ul Islam, ar ru’yatul Islam lil Wujud).

Worldview, menurut Alparslan Acikgence (dalam Fahmi Zarkasyi, 2004: 3) adalah asas bagi setiap perilaku manusia termasuk aktivitas-aktivitas ilmiah dan teknologi. Dengan demikian, segala pengetahuan yang muslim peroleh harus ditimbang dengan worldview Islam. Seorang muslim tidak dapat menerima begitu saja apa yang diajarkan atau dipelajarinya baik di bangku sekolah ataupun perkuliahan ataupun yang lainnya. Namun kita haruslah bersikap kritis terhadapnya.

Di dalam Islam, orang yang diberikan ilmu pengetahuan seringkali disebut sebagai ‘aalim (عالم) atau ‘ulamaa (علماء).Kata ilmuini sebenarnya sudah menjadi sebuah kata dalam bahasa Indonesia, bukan hanya sekedar dalam bahasa Arab, bahkan lebih dari itu tercantum dalam Al Qur'an.Kata 'ilm dalam Al Qur'an diungkapkan sebanyak 105 kali, lebih banyak sedikit dari kata al-Dien (103 kali).Kata 'ilm dengan kata jadiannya terungkap kurang lebih sebanyak 744 kali.Suherman (2012: 1-2) telah memperincinya sebagai berikut:

1.       عَلِمَ/ 'Alima
:   35 kali;
2.       يَعْلَمُ /Ya'lamu
: 215 kali;
3.       إِعْلَمْ /I'lam
:   31 kali;
4.       يُعْلَمُ/Yu'lamu
:     1 kali;
5.       عِلْمٌ /'Ilm
: 105 kali;
6.       عَلِم /'Alim
:   18 kali;
7.       مَعْلُوْم /Ma'lum
:   13 kali;
8.       عـلَمِيْنَ/'Alamin
:   73 kali;
9.       عَالَم /'Alam
:     3 kali;
10.   اَعْلَمْ/ A'lam
:    49 kali;
11.   عَلِيْم – عُلَمَاء
'alim – 'Ulama
:  163 kali­
12.   عَلَّمَ/'Allam
:      4 kali;
13.   عَلَّمَ'Allama
:     12 kali;
14.   يُعْلِم/Yu'lim
:     16 kali;
15.   عُلِمَ'Ulima
:     3 kali;
16.   مُعَلَّمMu'allam
:      1 kali
17.   تَعَلَّمTa'allam
:      2 kali.

Penulis sangat tertarik akan sebutan mengenai mereka itu dalam al Quran yang salah satunya ialah uulul ‘ilmi (أولواالعلم).Adapun kata ‘uulul ‘ilmi ini hanya diungkapkan satu kali saja yaitu dalam Q.S Ali Imrân ayat 18. Di mana ayat ini berkenaan dengan kesaksian para malaikat serta orang-orang yang berilmu bahwasannya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah SWT Yang Maha Adil. 

Mengacu pada latar belakang pemikiran tersebut, artikel ini mencoba untuk mengkaji konsep ‘uulul ‘ilmi beserta karakteristiknya dalam al Quran melalui kajian semantikyaitu cabang linguistik yang mempelajari makna yang terkandung pada suatu bahasa, kode, atau jenis representasi lain. Sehingga dalam artikel ini penulis mencoba menganalisis lafadznya terlebih dahulu lalu menjelaskan tafsiran makna kata tersebut dari kitab-kitab tafsir maupun kamus-kamus bahasa Arab yang relevan dengan pembahasan ini.

Besar harapan artikel ini memberikan sumbangsih yang berharga baik secara akademis maupun praktis.

Konsep Ulul Ilmi dalam al Quran

Secara bahasa, kata ûlû ((اولوا ini merupakan bentuk jamak dari âlun (آل) yang bermakna keluarga, sahabat, pemilik, dan yang memiliki (Mukhtar, 2008: 141). Kata ini senantiasa di-idhafat-kan dengan isim dhahir (kata yang nampak jelas), seperti أولو الأحلام والنُّهى : yang memiliki akal sempurna serta mampu mencegahnya dari hal yang tidak baik, أولو الأمر : pemegang kekuasaan,أولو الحل و العقد: para hakim yang memutuskan suatu perkara.

Kata ilmu itu tersendiri berasal dari asal kata ‘alima- ya’lamu yang bermakna ‘arafahu (mengetahui atau mengenalnya), adrakahu (mencapainya), serta fahimahu (memahaminya secara mendalam) (Mukhtar, 2008: 1541). Sedangkan menurut pakar Alquran al-Ashfahani (tt: 127) bermakna pengetahuan akan hakikat sesuatu.Adapun secara istilah kata ilmu berarti sejenis pengetahuan manusia yang diperoleh dengan riset terhadap objek-objek yang empiris; benar- tidaknya suatu teori sains (ilmu) ditentukan oleh logis- tidaknya dan ada- tidaknya bukti empiris (Tafsir, 2011: 14). Sehingga ketika ilmu itu tidak logis namun ada bukti empiris itu namanya pengetahuan khayal. Sedangkan apabila ilmu itu logis namun tidak ada bukti empirisnya maka dinamakan pengetahuan filsafat.

Ketika melihat pengertian ilmu yang ditawarkan oleh Ahmad Tafsir di atas seakan-akan kita melihat bahwasannya ilmu yang ditawarkan oleh alquran mengenai hal-hal yang bersifat ghaib serta tidak dapat dibuktikan secara empiris maka ilmu itu namanya pengetahuan khayal. Salah satu contohnya Q.S Fushilat ayat 53 sebagai berikut:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (53)
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar.Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”

Ketika kita melihat lafad aayaatinaa disini banyak terjemahan yang mengartikannya dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami yang ada di segala penjuru bumi dan pada diri mereka. Namun ketika ilmu pengetahuan dan teknologi semakin canggih terungkaplah bahwasannya  di dalam diri kita itu terdapat ayat-ayat Allah yaitu al quran itu tersendiri sebagaimana yang diungkap oleh Ahmad Khan ( dalam maqra MFQ) ketika beliau mengkodekan gen-gen pada intron (ruang yang belum terkodekan dalam kromosom) yang dikodekannya dalam bentuk huruf hijaiyyah. Adapun area intron yang pertama dikodekan olehnya ialah p38q dalam kromosom 19, dan hasilnya subhanallah ialah rangkaian huruf-huruf dari ayat pertama wahyu turun yaitu 

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Sehingga yang tadinya ayat-ayat al Quran yang Allah terangkan ada dalam diri kita itu dahulu ketika ayat itu disampaikan untuk pertama kalinya kepada manusia yang hidup di zaman Rasulullah hanya berupa ilmu yang belum bersifat empiris karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mereka miliki, maka pada zaman sekarang dapat dibuktikan bahwasaannya ayat-ayat itu tadi sudah bersifat empiris dan tidak hanya dalam bentuk khayalan belaka. Maha Benar Allah atas segala firman-Nya.

Selanjutnya dengan demikian secara bahasa kata ûlûl‘ilmi ini dapat diartikan sebagai seseorang yang memiliki suatu jenis pengetahuan manusiayang diperolehnya melalui riset terhadap objek- objek yang empiris sehingga ia mengetahuinya secara mendalam sampai menemukan hakikat ilmu tersebut.

Gabungan (idhafat) kedua kata tersebut yakni ûlûl‘ilmi, di dalam al Quran terungkap hanya satu kali yaitu pada Q.S Ali- Imrân ayat 18. Adapun ayatnya ialah sebagai berikut:

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan.Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Secara bahasa, menurut Warson Munawwir (1997: 746) makna syahida bermakna menghadiri, menyaksikan, memberikan kesaksian, mengakui, mengetahui, serta bersumpah. Sehingga kata syahida dalam ayat ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Mukhtar (2008: 1240) berarti telah mengetahui, menetapkan, serta mengakui akan keesaan Allah Ta’âla (Mukhtar, 2008: 1240). 

Secara I’rab yakni salah satu cabang ilmu nahwu (dalam bahasa Indonesia sering dinamakan sintaksis) kedudukan kata syahida sebagai fi’il madhi (kata kerja lampau). Sehingga kalau dikaji lebih mendalam maka dapat ditafsirkan bahwasannya Allah Ta’ala sejak zaman azali (proses penciptaan alam semesta ini berikut isinya) telah bersaksi serta menetapkan bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Dia Yang Maha Adil. Atau dengan kata lain bahwa sejak zaman azali, manusia (masih berupa janin, baik nantinya ia akan menjadi orang yang berilmu ataupun tidak) seluruhnya mengakui Allah sebagai Tuhan mereka, meskipun pada perkembangannya pada kehidupan dunia terjadi penyimpangan dari pengakuannya itu. Hal inilah yang akan dipertanggungjawabkannya pada hari kiamat, apakah dia tetap mengakui keesaan Allah dalam kehidupan dunia atau mengingkarinya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Allah Ta’ala dalam Q.S Al- A’raf [7]: 172

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",

Bahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al Bukhari (tt: 100) dari Abu Hurairah, telah bersabda Rasulullah saw sebagai berikut:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Semua anak yang dilahirkan, mereka dilahirkan atas dasar fitrah (tauhidullah).Ibu bapaknyalah yang meyahudikan (menjadikan pemeluk agama Yahudi), atau menasranikan (menjadikan pemeluk agama Nashrani), atau memajusikan (menjadikan pemeluk agama Majusi).”

Sehingga orang yang berilmu tidak akan mengingkarinya baik dari segi hukum maupun kenyataan. Karena sebagaimana yang diungkapkan oleh Hasbie Ash Shidiqie (2011: 344) bahwa seluruh hukum penciptaan alam berdiri atas dasar keadilan Allah. Dengan memperhatikan hukum- hukum alam akan terbukalah bagi kita tentang keadilan Allah yakni dengan bukti adanya kesatuan (keharmonisan) hukum-hukum alam. Hal ini juga diungkapkan oleh Quraish Shihab (2002: 200) ketika beliau menafsirkan kata tafâwut pada ayat ketiga dalam Q.S al Mulk, seraya berkata: 

“Bahwa Allah menciptakan langit- bahkan seluruh makhluk- dalam keadaan seimbang (adil) sebagai rahmat karena seandainya ciptaan-Nya tidak seimbang, tentulah akan terjadi kekacauan antara yang satu dan yang lainnya, dan ini pada gilirannya mengganggu kenyamanan hidup manusia di pentas bumi ini.”

Selanjutnya mengenai kata ûlûl‘ilmi ini, Al Maraghi (1946: 17) mengatakan bahwasannya orang yang berilmu ialah orang-orang yang memiliki pembuktian dan mampu menjadikan argumentasinya sebagai sandaran orang lain. Golongan seperti ini terdapat dalam umat ini dan umat-umat sebelumnya.Sehingga Orang-orang berilmu ini semakin bertambah ilmunya, maka bertambah pula kesaksiannya bahwa alam ini ada ber-Tuhan dan Tuhan ituhanya satu, yaitu Allah dan tidak ada Tuhan yang lain, sebab yang lain adalah makhluk-Nya belaka (Hamka, 2006: 179).

Kemudian dalam ayat ini terdapat hal yang sangat menarik perhatian kita yaitu mengenai kedudukan mulia yang diberikan Tuhan kepada ûlûl‘ilmi, yakni orang-orang yang mempunyai ilmu di dalam ayat ini.Setelah Tuhan menyatakan kesaksian-Nya yang tertinggi sekali, bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan kesaksian itu datang dari Allah sendiri, maka Tuhan pun menyatakan pula bahwa kesaksian tertinggi itupun diberikan oleh malaikat.Setelah itu kesaksian itupun diberikan pula oleh orang-orang yang berilmu. Artinya tiap-tiap orang yang berilmu, yaitu orang yang menyediakan akal dan pikirannya buat meyelidiki keadaan alam ini, baik di bumi ataupun di langit, di laut dan di darat, di binatang, di tumbuh-tumbuhan, niscaya manusia itu akhirnya akan sampai juga, tidak dapat tidak kepada kesaksian yang murni, bahwa memang tidak ada Tuhan melainkan Allah. Itulahpula sebabnya maka di dalam surat Fathir (35 ayat 28) tersebut, bahwa yang bisa merasai takut kepada Allah itu hanyalah ulama, yaitu ahli-ahli ilmu pengetahuan.

Karakteristik Ûlûl‘Ilmi dalam Al Quran

Karakteryang dalam bahasa arab sepadan dengan kata tha’biah (perangai, pembawaan), khuluq (sifat yang telah mengakar kuat), serta khâshiyyah (sifat yang tidak akan lepas serta yang dapat membedakannya dari yang lain). Sehingga keseluruhan karakter ini dapat membentuk corak pemikiran serta perbuatannya (Mukhtar, 2008: 652). Sedangkan karakteristik itu tersendiri dapat diartikan sebagai sesuatu hal yang membedakannya dengan yang lain.

Di muka telah diuraikan bahwa dalam al Quran orang yang berilmu (ûlûl‘ilmi) ialah seseorang yang memiliki suatu jenis pengetahuan manusia yang diperolehnya melalui riset terhadap objek- objek yang empiris sehingga ia mengetahuinya secara mendalam sampai menemukan hakikat ilmu tersebut. 
Adapun mengenai karakteristik orang yang berilmu (ûlûl‘ilmi) dalam al Quran ialah sebagai berikut:
  1. Adanya perasaan takut kepada Allah Ta’ala, sebagaimana hal ini juga diungkapkan oleh Sa’ûd al ‘Imâdi (tt: 187), Ibn Musthafa (tt: 491), Abbas Ahmad (1419 H: 336), di mana mereka mengatakan bahwa rasa takut kepada Allah SWT merupakan salah satu ciri orang yang berilmu. Mereka mengambil dalil Q.S Fathir [35] ayat 28 sebagai berikut:
“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya).Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Kata khasyat di sini menurut pakar al Quran, al Ashfahani (dalam Quraish Shihab, 2002: 62) memiliki makna rasa takut yang disertai penghormatan yang lahir akibat pengetahuan tentang objek. Dilihat dari kontek rangkaian penyebutannya, ayat ini didahului dengan penyebutan tanda-tanda kekuasaan Allah yang berupa turunnya hujan yang kemudian menghasilkan buah-buahan dengan berbagai warna dan rasa, gunung yang berwarna-warni dan perbedaan warna yang ada pada bintang dan manusia.Suatu hal yang mengisyaratkan tingginya nilai ilmu yang didasari atas pengamatan terhadap alam. Sungguh benar apa yang pernah dikatakan Albert Einstein (dalam Quraish Shihab, 1997: 171-172) setelah ia melakukan penelitian mengenai berkembangnya alam semesta ini yang dikenal dengan istilah “The Expanding Universe”, seraya berkata:

“Tiada ketenangan dan keindahan yang dapat dirasakan hati melebihi saat-saat ketika memperhatikan keindahan rahasia alam raya.Sekali pun rahasia itu tidak terungkap, tetapi di balik itu ada rahasia yang dirasa lebih indah lagi, melebihi segalanya, dan jauh di atas bayang-bayang akal kita. Menemukan rahasia dan merasakan keindahan ini tidak lain adalah esensi dari bentuk penghambaan.”

Hal senada sebelumnya juga diungkapkan oleh al-Razi (1420 H: 236), seorang pakar tafsir Alquran kenamaan.Ia mengomentari ayat di atas dengan mengatakan, “Semakin dalam seseorang menyelami lautan ciptaan Tuhan semakin tahu ia akan kebesaran dan keagungan-Nya.”

  1. Mengetahui, mengakui, serta memiliki keyakinan akan keesaan Allah Ta’ala. Karena ketika seseorang telah mengetahui hakikat suatu objek penelitiannya akan berakhir dengan ungkapan “Tidaklah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia” lalu tertunduk mengakui akan kekuasaan Allah SWT dan kebenaran yang dibawa oleh Nabi saw. Sebagai contoh ialah penelitian Dr. Arther J. Alison, ketua Departemen electrical and electronic di British University, yang dilakukandengan alat-alat elektronik selama 6 tahun mengenai fenomena orang mati dan orang tidur, menunjukkan adanya sesuatu yang keluar dari tubuh manusia ketika mati dan tidur. Pada orang mati, sesuatu itu tidak kembali lagi, sedangkan pada orang yang tidur sesuatu itu kembali lagi. Sebagai pemimpin lembaga parapsikologi dan spritualitas Inggris yang tertarik dengan kajian agama dan filsafat, ia diundang menjadi pembicara pada sebuah konferensi di Kairo. Dalam persiapan makalahnya, ia tertegun ketika membaca terjemahan al Quran surat az Zumar [39] ayat 42 yang menyebutkan fenomena di atas persis seperti hasil penelitiannya. Sehingga setelah selesai acara tersebut dia mengucapkan dua kalimat syahadat lalu berganti nama menjadi Abdullah Alison (LPTQ Jabar, 2011: 32).
  2. Senantiasa mengamalkan ilmunya dengan ikhlas. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw pernah bersabda:
“Manusia akan berada dalam kehancuran kecuali mereka yang berilmu. Yang berilmu pun akan binasa kecuali yang mengamalkan ilmu. Dan yang mengamalkannya juga akan binasa kecuali mereka melakukannya dengan ikhlas.”

Namun hadis ini dikategorikan sebagai hadis palsu (mawdhû`) oleh para pakar hadis.Misalnya oleh Ibn Darwisy (1997: 309), Al-Syaukani (1407 H: 257). Menurut Ibn Darwisy, hadis ini disebut oleh al-Samarqandi dalam bukunya Tanbîh al-Ghâfilîn, dan sangat diminati oleh para kaum sufi. Buku ini, masih menurutnya, banyak dipenuhi dengan hadis-hadis mawdhû`. Kendati demikian penulis tetap mengutipnya, tetapi tidak dengan keyakinan bahwa  itu hadis Rasul,  sebab kandungannya masih dapat ditolerir.

Demikianlah penjelasan mengenai konsep ûlûl‘ilmi dalam al Quran yang penulis analisis melalui kajian semantik.

Referensi
Abbas, Abu Ahmad. 1419 H. Bahrul Madid fi Tafsiril Quranil Majid.Kairo: Duktur Hasan Abbas Zakki.
Al- Ashfahani, ar- Raghib. tt. Mu’jam mufradat alfâzhul Quran.Beirut: Darul Fikr.
Al Bukhari. tt. Shaahihul Bukhari jilid 2.Beirut: al Sya’bi.
Al Maraghi. 1946. Tafsir al Maraghi jilid 3. Beirut: Darul Fikr.
Al Syaukani. 1407 H.Al-Fawâ`id al-Majmû`ah fi al-Ahâdîts al-Mawdhû`ah jilid 1.Beirut : Al-Maktab al-Islami.
Ali, Abul Hasan an Nadawi. 1981. Madza khasiral ‘alam bi inhithatil muslimin cet. 9. Kairo: Maktabatul Iman.
Fahmi, Hamid Zarkasyi. 2004. Islam Sebagai Pandangan Hidup, dalam Tantangan Sekularisasi dan Liberalisasi di Dunia Islam. Jakarta: Khairul Bayan.
Hamka. 2006. Tafsir al Azhar jilid 3. PT Pustaka Panjimas: Jakarta.
Hasbie, Muh. Ash-Shidiqie.2011. Tafsir an-Nuur jilid 2.Jakarta: Cakrawala Press.
Ibn, Haq Musthafa.tt. Ruhul Bayan jilid 10.Beirut: Darul Fikr.
Ibn, Muhammad Darwisy. 1997.Asnâ al-Mathâlib fî Ahâdîts Mukhtalaf al-Marâtib jilid 1. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
LPTQ Jabar. 2011. Maqra Musabaqah Fahmil Quran. Bandung: LPTQ Jabar: tidak diterbitkan.
Mukhtar, Ahmad. 2008. Mujam Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’ashirah Jilid 1. Kairo: ‘Alamul Kuttub.
. 2008. Mujam Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’ashirah Jilid 2. Kairo: ‘Alamul Kuttub.
Qardhawi, Yusuf. 1993. Syari’atul Islam Shalihatun Li Tathbiiqi Likulli Zamanin Wa Makanin. Kairo: Darus Shahwah.
Qarni, Aidh. 2006. Cahaya Zaman.  Terj. Mujiburrahman Subadi Dan Al Kattani Dari “Hakadza Hadatsana Zaman”. Depok: Al Qalam.
Quraish, Muh. Shihab.2002. Tafsir al Misbah vol 14.Jakarta: Lentera Hati.
                                    . 2002. Tafsir al Misbah vol 11.Jakarta: Lentera Hati.
                                    . 1996. Mukjizat al Quran. Bandung: Mizan.
Sa’ûd, Abu al ‘Imâdi. tt. Irsyadul ‘aqli Salim Ilaa Mazaya al Kitabil Karim jilid 9. Beirut: Darul Ihyaut Turats.
Suherman, A. 2012.Diktat Psikolinguistik.Bandung: Jurusan Pendidikan Bahasa Arab FPBS UPI: tidak diterbitkan.
Tafsir, Ahmad. 2011. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Wan Mohd, Nor Wan Daud.2003.Filsafat dan Praktik Pendidikan Syed M Naquib Al Attas, Terj. Hamid Fahmi Zarkasyi dkk. Bandung: Mizan.
Warson, Ahmad Munawwir. 1997. Kamus al Munawwir Arab- Indonesia Terlengkap.Surabaya: Pustaka Progressif. 


*Departemen Kajian Ilmiah PK HIMA Persis UPI '13

**) Disampaikan pada Kajian Gabungan yang diadakan oleh HIMA-HIMI Persis PK UPI 2013