HIMA PERSIS

qrcode

Minggu, 21 Oktober 2012

Terapi Dinamika Organisasi dengan Infaq dan Shabar

dok. pribadi
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS.Ali-Imran :134)

                Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa sedetikpun melepaskan bantuan dari orang lain, semua yang kita makan,minum, pakai, lihat pasti ada orang lain yang berperan didalamnya. dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang kita mendapati orang lain membantu pekerjaan kita ataupun sebaliknya, kita membantu pekerjaan orang lain. namun dalam dinamika sosial, hubungan individu dengan individu yang lain tidak selamanya baik, kadang kita mendapatkan ketidak se-pahaman dengan orang lain yang membuat kita kadang merasa jengkel berujung marah. Begitu pula orang lain, kadang karena perbuatan kita, banyak orang merasa risih dan terganggu, baik disadari atau tidak sama sekali. Begitu pula dengan hal menyangkut perekonomian, keadaan ekonomi seseorang tidak selalu cukup dn tidak selamanya kurang asal ia mau berusaha, kita sering sekali menemukan orang-orang menengadahkan tangan di perempatan jalan untuk sesuap nasi, juga banyak orang yang berlomba-lomba memberikan harta terbaiknya untuk menolong kehidupan sesama, hal ini tentu merupakan dari ragam warna kehidupan yang menuntut kita mampu memilih sikap sesuai keadaan.


                Allah Swt dalam wahyu yang Ia turunkan melalui Jibri As kepada Nabi Muhammad Saw memberikan arahan langsung apa yang harus kita perbuat dalam dahsyatnya gelombang pergaulan manusia. Allah mengajarkan kepada kita untuk meng-infaq-kan harta kita baik dalam keadaan lapang maupun sempit  dan menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain sebagaimana yang telah saya kutip dari ayat al-Qur’an diatas.


                Al-Maraghi menuliskan dalam kitabnya bahwa melakukan infaq dalam dua kondisi, yaitu mudah dan sempit menunjukan ketaqwaan (al-Maraghi juz IV:117), kita bisa mengeluarkan infaq bergantung pada kemampuan kita, kita bisa memberikan infaq kepada pengamen di Bus Damri saat kita pulang sekolah, membayar infaq bulanan atau biasa kita kenal dengan Uang Kas, memberikan ongkos lebih kepada Mang Becak yang bersedia mengantarkan kita tepat di depan sekolah, atau mentraktir makan siang teman yang membawa bekal pas-pasan dengan niat semata-mata karena Allah Swt.


                Dalam menyikapi sifat manusia yang kadang tidak sesuai dengan kepribadian kita pun Allah Swt telah memberikan arahanya kepada kita untuk senantiasa bisa bersabar dan memberi maaf kepada orang lain. Orang yang menahan dan mengekang perasaan amarahnya, tidak mau melampiaskan, sekalipun hal itu bisa saja ia lakukan merupakan perbuatan yang jarang bisa dilakukan oleh setiap orang (al-Maraghi Juz IV:121). Setiap hari kita disibukan dengan situasi yang kadang kala menguras kesabaran kita, lalu lintas yang  macet, pengendara lain yang menabrak dari belakang, teman yang sulit sekali mengerti saat kita menjelaskan materi dalam tugas kelompok, teman yang mengobrol pertandingan bola semalam padahal guru sedang seru menjelaskan bab fluida saat pelajaran fisika, atau amanah kepanitiaan yang begitu banyak sampai-sampai kita sibuk oleh sms undangan rapat yang mengganggu jam tidur siang. Semua ini bisa kita lalui dengan perasaan senang tentu jika kita melewatinya dengan kesabaran. Belum lagi kesabaran akan meningkatkan derajat kita jauh diatas orang-orang yang tidak bisa menahan emosinya.


                Dalam sisa umur kita yang kian hari kian berkurang kita bersama bertekad untuk meningkatkan kesabaran, kepekaan sosial kita dengan berinfaq dalam keadaan lapang dan sempit dengan niat semata-mata karena Allah, berharap kita bisa masuk dalam golong orang-orang yang dicintai-Nya, masuk kedalam surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan. Mulailah dari hal yang terkecil, karena sesuatu yang besar dimulai dengan hal yang kecil dan kehidupan sukses dimasa depan dimulai dari hari ini.(Trias, 2012) 

Sabtu, 20 Oktober 2012

Basa-basi masa orientasi


sumber : google.com
Ada suatu budaya yang berkembang di tataran lingkungan kampus saat penerimaan mahasiswa baru di setiap universitas, baik itu penyambutan oleh kakak angkatan atau ‘penyambutan’ yang bisa dibilang kuno, malah terkesan primitif bagi pola fikir seorang mahasiswa.  Betapa tidak, di peralihan era informasi menuju era konseptual ini banyak mahasiswa yang masih berfikiran jumud, atau tidak berfikir out of the box, masih mengimplementasikan nilai-nilai kekerasan bertopeng kedisiplinan, dan perkataan kotor berdalih ketahanan mental.
                Hampir genap dua tahun saya duduk sebagai mahasiswa, menyaksikan berbagai jenis masa orientasi yang diterapkan, mulai dari pola wawancara yang menerapkan prinsip egaliterianisme, begitu santun kaka tingkat bertanya pada adik kelas barunya, juga yang muda begitu hormat menjawab pertanyaan kaka tingkatnya. Pada keadaan yang lain, mahasiswa baru menunduk dengan perasaan ‘takut’ sembari menyanyi plus topi segitiga diatas kepalanya  ditambah barang bawaan yang lebih dari normal. Tampaknya model orientasi seperti ini lebih familiar di ingatan kita, bagaimana mereka harus membawa ‘ minuman tujuh turunan’ ditambah ‘piramid’, datang pagi sekali, lalu tiba di lokasi siap-siap untuk disentak tanpa alasan yang masuk akal.
                Sebagai seorang mahasiswa, saya berfikir, lantas apa differensiasi antara siswa dan mahasiswa? para siswa di SMA melakukan masa orientasi yang modelnya hampir sama dengan kejadian diatas, bukan konten acaranya, tetapi substansi dari konten acara tersebut yang lebih mengarah pada pemerkosaan hak-hak siswa atau mahasiswa baru. Pernah terlintas dalam diri saya, ternyata para kakak angkatan memberikan model orientasi seperti itu agar menimbulkan kesan bagi adik tingkatnya, dan ternyata hal itu benar, mayoritas adik tingkatnya merasa berkesan, tentu kesan buruk kepada kakak angkatan. Darimana saya bisa katakan hal itu? Mari cermati bersama, mengapa pola orientasi dari tahun ke tahun hampir sama dan cenderung tetap seperti yang kita lihat? Hal itu karena ada kesan kurang baik pada adik kelas pada kaka tingkatnya dulu, oleh sebab itu angkatan yang telah merasakan masa orientasi ‘melampiaskan’ hal yang sama pada adik kelasnya. Hal ini akan berakibat fatal bagi paradigma awal para mahasiwa yang seolah di didik untuk menjaga warisan budaya sentak-sengor(sunda:menyentak dengan kasar).
                Masa Orientasi mahasiswa baru harus diperlakukan sebagai Instrumen kaderisasi yang efektif juga jitu memecah perbedaan angkatan, senioritas juga batas pertemanan. Islam telah mengajarkan kepada kita agar memperlakukan yang kecil dengan kasih sayang, dan memperlakukan yang lebih tua dengan rasa hormat. Sebagai seorang muslim, sudah cukuplah bagi kita menjadikan hal ini sebagai basis masa orientasi, menghargai mahasiswa baru sebagai manusia yang merdeka, tanpa ada kekangan senioritas, dinding keangkuhan usia, atau sebuah hegemoni angkatan yang terkesan menjelma menjadi sebuah kekuatan tangan besi.
                Dari kesadaran diatas, sudah sepantasnya bagi kita bersikap objektif dalam menyikapi sesuatu, tanpa embel-embel pembelaan pada kawan dekat atau kelompok tertentu, atau sebuah pemikiran ketakutan kalah pengaruh. Sudah saatnya bagi kita keluar dari berbagai macam kejumudan pola fikir, keluar dari alasan hukuman push-up sebagai alasan untuk olahraga dan kesehatan, padahal kita tahu olahraha yang menyehatkan itu bukan satu atau dua kali, tetapi harus rutin dengan frekuensi yang ditentukan. Sudah tiba waktunya bagi para mahasiswa merasa senang dengan pengumuman akan ada masa orientasi dikarenakan para kaka tingkat yang welcome menerima adik tingkatnya secara tulus dan ikhlas mendidik, seperti halnya petani yang merawat tanamanya agar tumbuh subur juga besar.
                Tulisan ini bukan saya maksudkan untuk sekedar curahan hati atau malah provokasi, tulisan ini semata-mata ingin membuka  pola fikir kita bersama menuju masa depan yang lebih baik, karena dengan sebuah harapan dan optimisme kita akan menjalani masa depan yang cerah bersamaan, masa depan yang diberkahi, penuh dengan kebahagiaan dan kekompakan.

Minggu, 13 Mei 2012

Quo Vadis Pendidikan Indonesia


Quo Vadis Pendidikan Indonesia
Oleh : Hilman Rasyid*

“Tidak mungkin negara Indonesia maju tanpa disiplin”
-Popong otje djundjunan (Anggota Komisi X DPR RI)

Di tengah kebobrokan dan kebangkrutan moral bangsa, maraknya tindak kekerasan, inkoherensi politisi atas retorika politik, dan perilaku keseharian yang tanpa peduli sesama, pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis religius menjadi relevan untuk diterapkan. Pendidikan karakter ala foerster yang berkembang pada awal abad ke-19 merupakan perjalanan panjang pemikiran umat manusia untuk mendudukkan kembali idealisme kemanusiaan yang lama hilang ditelan arus positivisme yang dipelopori oleh filusuf Prancis Auguste Comte.

Tradisi pendidikan di Indonesia tampaknya belum matang untuk memeluk pendidikan karakter sebagai kinerja budaya dan religius dalam kehidupan bermasyarakat. Kebiasaan berfikir kritis melalui pendasaran logika yang kuat dalam setiap argumentasi juga belum menjadi habitus. Kebanyakan guru hanya mengajarkan apa yang harus dihafalkan. Mereka membuat peserta didik menjadi “beo” yang dalam setiap ujian cuma mengulangi apa yang dikatakan guru. Jika kita melihat sejarah, ternyata sikap pasif dan adaptif terhadap teks (buku pelajaran) dipengaruhi oleh gelombang budaya positivisme yang lahir dari rahim kapitalisme yang mengakibatkan terjadinya degradasi fakultas kritis para peserta didik. Akibatnya peserta didik hanya akan menerima apa adanya, tanpa reserve, dan tanpa kritik. Mirisnya lagi, dunia pendidikan kita masih sibuk berkutat dengan problematika internalnya seperti penyakit dikotomi, profesionalitas pendidiknya, sulit meratanya pendidikan, sistem pendidikan yang masih lemah, pendidikan dikomersialisasikan dan sebagainya.

Melirik Problematika Pendidikan
Dunia pendidikan kita sepertinya telah melupakan tujuan utama pendidikan, karena dilihat dari semakin menyimpangnya dari tujuan pendidikan. Kita ketahui bahwa problematika pendidikan merupakan suatu kendala yang akan menghambat dan menghalangi tercapainya tujuan pendidikan. Kita ambil saja salah satu kebijakan yaitu sistem Ujian Nasional (UN); suatu kebijakan yang sudah menjadi kontroversi. Dengan adanya kebijakan bahwa tolak ukur kelulusan ditentukan hanya dari nilai UN tanpa melihat sebuah proses dan nilai lain, maka pendidikan telah dijadikan layaknya sebuah mesin yang hanya mencetak para peserta didik yang pintar tapi tidak bermoral dan pragmatis yang kemudian menjadi para penganggur. Sehingga, kebijakan UN ini sangat bertentangan sekali dengan wacana pendidikan berbasis karakter dan budaya.

Kemudian aksesibilitas pendidikan yang ternyata sangat sulit dilakukan hingga ke pelbagai pelosok di Indonesia. Menurut Popong otje djundjunan (Anggota Komisi X DPR RI), -sewaktu penulis berdiskusi dengan beliau pada hari kamis (3/5)- bahwa sulitnya pemerataan pendidikan disebabkan 2 kondisi; pertama, kondisi fisik Indonesia yang secara geografis mempunyai sekitar 17.000 pulau, sehingga aksesibilitas pendidikan sulit merata. Kedua, kondisi non fisik yang tentunya dilihat dari sistem pendidikan di Indonesia yang masih lemah. Banyak juga para pejabat dalam sektor pendidikan yang tidak dan bukan orang yang menguasai pendidikan. Sehingga kita bisa lihat faktanya, bahwa pendidikan kita telah keluar dari jalan yang sebenarnya bahkan kehilangan arah.

Jika kita lihat aksesibilitas pendidikan dari segi anggaran, yang faktanya banyak dana/anggaran pendidikan yang tidak tepat sasaran dan entah masuk ke rekening siapa. Faktanya, meskipun dibantu dengan adanya Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang menjadi sebuah tindakan solusi emergency, masih banyak anak-anak miskin yang tetap tidak bisa mengenyam pendidikan dasar dikarenakan tetap mahalnya biaya lain, seperti seragam sekolah yang bermacam-macam yang harus dibeli dengan harga mahal, biaya buku dari sekolah yang mahal pula dan sebagainya. Meskipun di sisi lain dana pendidikan yang bayak dikorupsi, mungkin itulah yang menjadi kendala esensial krusial bagi anak-anak miskin di Indonesia untuk mengenyam pendidikan dasar dan sekolah menengah pertama. Yang mengejutkan lagi, anggaran pendidikan 20% dari APBN ternyata bukan hanya masuk pada kementerian pendidikan dan kebudayaan saja, melainkan masuk ke-18 kementerian. Karena masing-masing kementerian mempunyai kepentingan dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia.

Arah ideologi pendidikan sekarang sepertinya hanya bertumpu pada kebutuhan arus pasar semata. Padahal ideologi pendidikan sangat berbeda dengan ideologi pasar. Ideologi pendidikan lebih mementingkan nilai-nilai etis-humanistik, sedangkan ideologi pasar lebih bertumpu pada nilai-nilai pragmatis-materialistik. Ketika ideologi pasar telah mendominasi dunia pendidikan, maka ideologi pendidikan kita akan terseret jauh sehingga pendidikan hanya mencetak lulusan-lulusan yang pragmatis dan amoral.

Pendidikan Karakter; Hanya Sebuah Wacana Pemanis?
Jika melihat secara historis, istilah karakter dipakai dalam pendidikan pertama kali dicetuskan oleh pedagog Jerman F.W.Foerster. Terminologi ini mengacu pada sebuah pendekatan idealis-spritualis dalam pendidikan yang juga dikenal dengan teori pendidikan normatif. Yang menjadi prioritas adalah nilai-nilai transenden yang dipercaya sebagai motor penggerak sejarah, baik bagi individu maupun bagi sebuah perubahan sosial.

Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus yang melibatkan aspek teori pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Pendidikan karakter ini hanya akan menjadi sekadar wacana jika tidak dipahami secara lebih utuh dan menyeluruh dalam konteks pendidikan nasional kita. Begitu pentingnya pendidikan karakter ini, sehingga Mahatma Gandhi memperingatkan tentang salah satu dari tujuh dosa fatal adalah “education without character” (Pendidikan tanpa karakter). Pendidikan karakter di negara-negara lain telah menjadi skala prioritas. Menurut Masnur Muslich, pendidikan karakter di beberapa negara dimulai sejak pendidikan dasar (elementary school), seperti di China, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea. (Pendidikan Karaker, 40:2011)

Pendidikan karakter ini merupakan sebuah upaya yang harus melibatkan semua pihak baik sekolah, keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan karakter tidak akan pernah berhasil selama antar lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. Karena karakter dan subjektifitas manusia sangat dipengaruhi oleh apa yang dibaca dan dipelajari, lingkungan sekolah, sistem politik yang mengatur publik, media massa dan televisi yang menyuplai informasi serta entitas-entitas lain yang turut mempengaruhi kesadaran individu. Sehingga dengan begitu, para peserta didik tidak hanya mampu mendemistifikasi kepentingan ideologis yang menyelimuti realitas dan mampu menyingkap fenomena-fenomena sosial, tetapi mereka juga bisa mempertahankan idealisme dan prinsipnya dengan baik.

Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini, karena usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Sehingga, kesuksesan orang tua dalam membimbing anaknya sangat menentukan kesuksesan anaknya dalam kehidupan sosial di masa dewasanya kelak. Seperti yang dikemukakan oleh Freud bahwa kegagalan penanaman kepribadian yang baik di usia dini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak. Teringat juga sebuah saran dari Philips yang menyarankan bahwa keluarga hendaklah kembali menjadi school of Love (Sekolah untuk kasih sayang) atau tempat belajar yang penuh cinta dan kasih sayang. Penyair Arab al-Hafidz Ibrahim juga pernah menulis bahwa Ibu adalah sekolah, jika dipersiapkan dapat membentuk bangsa yang baik dan kuat.

Sistem Pendidikan yang Ideal
Sebuah sistem pendidikan yang berhasil adalah yang dapat membentuk manusia-manusia berkarakter yang sangat diperlukan dalam mewujudkan sebuah negara kebangsaan yang terhormat. Li Lanqing, seorang politikus China yang mempunyai pemahaman yang komprehensif dan mendalam tentang pendidikan. Dia menekankan bahayanya sistem pendidikan yang terlalu menekankan hafalan (kognitif), drilling, dan cara mengajar yang kaku, termasuk sistem pendidikan yang berorientasi hanya untuk lulus dalam ujian. Sebagai hasilnya, China bisa mengejar ketertinggalan ekonomi, sosial, dan budaya akibat Revolusi Kebudayaan yang dijalankan oleh Mao Zedong antara tahun 1966 dan 1976.

Sistem pendidikan ideal adalah suatu sistem yang mampu menanggulangi kebutuhan peserta didik yang berorientasi pada norma-norma idealisme serta akhlaq yang terpuji, bukan sistem yang hanya menitik-beratkan pada kecerdasan intelektual semata, tetapi harus diimbangi dengan kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional secara selaras, serasi, dan seimbang serta mampu menterapkan norma-norma agama Islam dengan akhlaq yang terpuji. Dengan begitu, perlu adanya pendidikan Islam sebagai dasar pembentukan moral. Pendidikan Islam yang menekankan pada dimensi normatif-teologis akan memberikan kontribusi dalam memecahkan persoalan-persoalan empiris-sosiologis yang terjadi di masyarakat. Sistem pendidikan yang baik akan menghasilkan manusia-manusia yang mumpuni kemampuannya serta terpuji akhlaqnya, sehingga bangsa kita akan bangkit, beradab, dan berkarakter. Karena pendidikan bukanlah segalanya, tapi segalanya  berawal dari pendidikan.

Wajah pelbagai problematika pendidikan harus segera dibenahi atau diakhiri agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan berkarakter sehingga tidak akan muncul sindiran-sindiran tajam di publik seperti “Sekolah itu candu” (Roem Topatimasang,2004), “Orang Miskin dilarang sekolah” (Eko Prasetyo,2005) dan lain-lain. Dunia pendidikan jangan sampai dijadikan sebagai kelinci percobaan dalam setiap kebijakan-kebijakannya, karena rakyatlah yang pasti akan menderita. Membangun sistem penyelenggaraan pendidikan yang baik dan benar hanya dapat diwujudkan dengan sistem yang telah teruji, terbukti, dan hanya berpihak kepada kepentingan rakyat (pro-rakyat). Semoga ke depan bangsa kita lebih beradab, berkembang, sejahtera kini, esok, dan selamanya. Bravo Pendidikan Indonesiaku !!

*-Staff Kajian Pendidikan BEM REMA UPI’12
-Ketua Departmen Humas BEM KEMABA UPI’12
-Sekretaris Umum HIMA Persis UPI’12

Kamis, 29 Desember 2011

Kiat Islami Mengokohkan Soliditas Organisasi (Bag 1)

(Rizki Abdurahman) Setiap organisasi memiliki cita-cita dan keinginan selalu memberikan yang terbaik bagi umat. Tentu saja keinginan tersebut jangan hanya sebatas wacana belaka, tetapi harus diwujudkan dengan berbagai upaya menuju kearah sana. Salah satu hal yang penting untuk diupayakan adalah mengokohkan soliditas dalam tubuh organisasi. Suatu organisasi akan berdiri tegak, kuat dan kokoh manakala para penghuni organisasi tersebut memiliki kesolidan. Lalu bagaimana Islam memberikan kiat-kiat agar organisasi tetap solid?. Simaklah pemaparan berikut ini:
Ada beberapa kiat yang disuguhkan Islam untuk memelihara soliditas organisasi, di organisasi manapun kita berada. Kiat-kiat ini harus tetap dipelihara oleh para anggota di organisasi secara bersamaan. Kiat-kiat yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Musyawarah, 2. Tabayyun, 3. Islah, 4. Silaturahmi, 5. Ta’awun, 6. Menjauhi Perbedaan,
7. Tafahhum, 8. Tadhhiyyah, 9. Taushiyyah.

Penjelasannya lebih rinci dapat disimak berikut ini:
  1. Musyawarah
    Ada tiga ayat Alquran yang akar katanya menunjukkan musyawarah, yaitu:
    1. Al-Baqarah:233
      فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَ

      Apabila keduanya (suami-istri) ingin menyapih anak mereka (sebelum dua tahun) atas dasar kerelaan dan musyawarah antar mereka, maka tidak ada dosa atas keduanya.
      Ayat ini membicarakan bagaimana seharusnya hubungan suami-istri saat mengambil keputusan yang berkaitan dengan rumah tangga dan anak-anak.
    2. Ali Imran:159
      فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

      Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
      Ayat ini dari segi redaksionalnya ditujukan kepada Nabi Muhamad agar memusyawarahkan persoalan-persoalan tertentu dengan para sahabat atau anggota masyarakatnya. Tetapi ayat ini juga merupakan petunjuk kepada kaum muslimin, khususnya setiap pemimpin, agar bermusyawarah dengan anggota-anggotanya.
    3. As-Syura: 38
      وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

      Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.
      Ayat ini turun sebagai pujian kepada kaum Anshar yang bersedia membela Nabi saw. dan menyepakati hal tersebut melalui musyawarah yang mereka laksanakan di rumah Abu Ayub al-Anshari. Namun ayat ini juga berlaku umum, mencakup setiap kelompok yang melakukan musyawarah dalam kebaikan.

    Pengertian Musyawarah Kata musyawarah diambil dari kata syawara. Pada mulanya bermakna “mengeluarkan madu dari sarang lebah”. Makna ini kemudian berkembang , sehingga mencakup segala sesuatu yang dapat diambil atau dikeluarkan dari yang lain, termasuk pendapat. Musyawarah dapat juga berarti mengatakan atau mengajukan sesuatu. Dari pemaknaan asal, yaitu mengeluarkan madu, dan perkembangan maknanya, yaitu mengajukan pendapat, terdapat hubungan yang kuat, yang perlu untuk dicermati oleh orang yang bermusyawarah, yaitu sebagai berikut:
    Madu bukan saja manis, melainkan juga obat untuk banyak penyakit, sekaligus sumber kesehatan dan kekuatan. Itu sebabnya madu dicari di manapun dan oleh siapa pun. Madu dihasilkan oleh lebah. Lebah makhluk yang sangat berdisiplin, kerjasamanya mengagumkan, makanannya sari kembang, dan hasilnya madu (teu sawios raeng oge). Di manapun hinggap lebah tak pernah merusak. Ia takkan mengganggu kecuali diganggu. Bahkan sengatannya pun dapat jadi obat. Seperti itulah makna musyawarah dan demikian pula sifat yang melakukan musyawarah. Raeng loba omong, tapi hasilnya manis menyehatkan. Lain kalahka omong, hasilna pundung, nyieun kelompok tandingan, nu asalna dulur jadi batur.
    Petunjuk Alquran dalam Pelaksanaan Musyawarah Petunjuk Quran tentang musyawarah amat singkat dan hanya mengandung prinsip-prinsip umum saja, antara lain:
    Sikap yang harus dilakukan seseorang untuk menyukseskan musyawarah, seperti yang diisyaratkan dalam Ali Imran:159. Pada ayat ini disebutkan 3 sikap yang secara berurutan diperintahkan kepada Nabi untuk dilakukan sebelum datangnya perintah bermusyawarah, yaitu:
    1. Sikap lemah lembut
      Seseorang yang melakukan musyawarah, apalagi sebagai seorang pemimpin, harus menghindari tutur kata yang kasar serta sikap keras kepala, karena jika tidak, mitra musyawarah akan bubar. Teu bubar ge babar, nyaeta sagala kaluar sarupaning ucapan nu teu pantes, sarta sumpah serapah, nu akhirna bakal jadi bubur, nyaeta ancur and babak belur. Petunjuk ini terkandung dalam kalimat وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
    2. Memberi maaf dan membuka lembaran baru
      Pada ayat tersebut diungkap dengan kalimat fa’fu ‘anhum (maafkanlah mereka). Maaf secara harifiah berarti menghapus. Memafkan berarti menghapus bekas luka di hati akibat perlakuan pihak lain yang dinilai tidak wajar. Hal ini perlu untuk diperhatikan, karena tidak ada musyawarah tanpa pihak lain, sedangkan kecerahan pikiran hanya hadir bersamaan dengan sirnanya kekeruhan hati. Di sisi lain, orang yang bermusyawarah harus menyiapkan mental untuk selalu bersedia memberi maaf. Karena ketika bermusyawarah mungkin terjadi perbedaan pendapat atau keluar kalimat-kalimat yang menyinggung pihak lain. Ini pesan yang terkandung dalam kalimat fa’fu ‘anhum. Kemudian orang yang berwusyawarah harus menyadari bahwa untuk mencapai hasil yang terbaik ketika bermusyawarah tidak hanya mengandalkan ketajaman analisis akal saja, tetapi perlu pula kepada faktor yang ketiga.
    3. Permohonan maghfirah (ampunan) Allah
      Dalam lanjutan ayat itu disebutkan was taghfir lahum. Permohonan maghfirah (ampunan) Allah. Artinya perlu kesucian hati, kebesaran jiwa, dan keikhlasan sebagai bukti kerhamonisan hubungan dengan Allah. Kemudian Alquran memberi petunjuk pula tentang apa yang harus dilakukan setelah musyawarah itu selesai. فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ Yaitu kebulatan tekad untuk melaksanakan apa yang telah ditetapkan dalam musyawarah.

    Permasalahan yang di Musyawarahkan Dari penggunaan kata amr tersebut tampak jelas bahwa
    1. Ada hal-hal yang menjadi urusan Allah semata sehingga manusia tidak diperkenankan untuk mencampurinya;
    2. Ada pula urusan yang dilimpahkan sepenuhnya kepada manusia.
    Dalam masalah ketetatapan Allah dan Rasul-Nya yang bersumber dari Wahyu Allah menyatakan dengan tegas (al-Ahzab:36)
    وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمْ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

    Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.
    Dari ayat-ayat tersebut kami berkesimpulan bahwa persoalan-persoalan yang telah ada petunjuknya dari Allah secara tegas dan jelas, baik langsung maupun melalui Nabi-Nya, tidak dapat dimusyawarahkan, seperti urusan akidah dan tata-caranya, hukumnya judi dan miras. Selain itu Musyawarah hanya dilakukan pada masalah-masalah ibadah yang belum ditentukan petunjuknya secara tegas dan jelas Persoalan duniawi, baik yang petunjukknya bersifat global maupun tanpa petunjuk sema sekali.
Rizki Abdurahman - Mahasiswa PBA UPI Bandung dan Kadep Kajian Ilmiah HIMA PERSIS PK UPI

Senin, 28 November 2011

Rakyat Indonesia Butuh Sosok Soe Hok-gie Jilid 2



‎"Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan"
-Soe Hok-gie

(Hilman Rasyid) Hiruk pikuk dan dinamika politik di negeri ini yang semakin rumit, menjadi sebuah momentum untuk menampilkan kembali sosok Soe Hok-gie yang hampir telah dilupakan oleh mayoritas rakyat Indonesia. Di tengah krisis rasa keadilan, hilangnya rasa malu dan gencarnya semangat untuk menggugat khususnya hukum saat ini, sosok Soe atau Gie; panggilan akrabnya, pantas ditampilkan kembali di era globalisasi ini. Soe yang kita kenal sebagai orang yang cerdas, penulis produktif, pemberani, idealis murni, seorang demonstran namun romantis, aktivis tahun ’66. serta intelektual muda yang luar biasa, dan semangatnya yang senantiasa menggelegak, seakan tak peduli risiko apa pun yang bakal menimpanya karena kecintaannya pada keindonesiaan.

Dalam catatan narasi sejarah bangsa Indonesia telah terukir, bagaimana daya juang yang diperlihatkan sosok Soe Hok-gie yang pernah ikut andil dalam menumbangkan rezim orde lama dan menentang Pemimpin Besar Revolusi, Presiden Soekarno. Soe memang sosok yang keras baik dalam sikap intelektual maupun politik. Di dalam bukunya yang terkenal “Catatan Seorang Demonstran”, beliau mencurahkan segala unek-unek yang terjadi pada masanya. Analisisnya yang tajam terhadap berbagai permasalahan bangsa lewat tulisannya yang sering dimuat di beberapa Koran, menjadikannya sebagai orang yang terkenal kritis baik di kalangan mahasiswa maupun para pejabat negeri ini. Tulisan-tulisan yang tajam mengkritisi ketidakadilan; korupsi dan suap merajalela, ternyata keluar dari sosok yang sederhana, ringkih, dengan cara jalan yang lucu. Sungguh berbeda dengan gambaran pemuda masa kini yang berpenampilan urakan dengan jaket, bendera dan celana robeknya. Kemudian tidak sedikit pemuda yang bisanya berteori di mulut saja tanpa ada realisasi, dan lebih parah lagi pemuda yang apatis terhadap problematika bangsa Indonesia. Betapa tidak menariknya para pemuda sekarang ini. Sosok idealis seperti Gie itulah yang bisa membuat anak muda berani menghadapi hidup, menyelami relung-relung bangsa yang penuh liku dan luka, menjadi pemuda yang bisa dibanggakan bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Tugas Pemuda; Membaca untuk Melawan

Angkatan muda sekarang sepertinya telah tertular dan terjebak oleh virus yang bernama “Kapitalisme Global”. Sistem tersebut telah berhasil membuat khususnya angkatan muda bersikap apatis, materialis, konsumeris (rakus), hedonis dan lain-lain. Merajalelanya patologi sosial (penyakit masyarakat) seperti: prostitusi, bisnis esek-esek, mafia perjudian, aborsi, minuman keras dan narkoba, sudah sampai pada titik nadir yang sangat memprihatinkan. Pemuda hari ini selalu sibuk menyaksikan siaran hiburan televisi, entah itu sinetron beradegan tangis bombay, nyanyian dengan tarian goyang-goyang dada dan pinggul, film action dar-der-dor berdarah-darah, serial komedi yang berteriak ketawa-ketiwi basi, ataupun tayangan infotainment yang hanya gosip picisan orang berniat kawin cerai, dan lain-lain. Angkatan muda jelas mempunyai tugas yang sangat signifikan yaitu membaca untuk melawan. Melawan dengan intelektualitas pada ketidakadilan dan ketidakjujuran di berbagai hegemoni kehidupan, baik melawan dengan tulisan maupun dengan ucapan. Karena kita adalah pionir perubahan. Maka keberadaan kita diharapkan bisa mendesain dan memicu adanya perbaikan bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Semangat Perbaikan Indonesia

Impian Soe Hok-gie untuk membangun Indonesia yang lebih adil, makmur, sejahtera, dan demokratis masih sangat relevan hingga saat ini. Dalam usia Republik Indonesia yang ke-66 tahun pada 2011 ini, ternyata bangsa kita belum semuanya menikmati rasa keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan. Sistem demokrasi Indonesia yang datang silih berganti ternyata juga belum mampu membawa Indonesia ke situasi yang amat diidam-idamkan itu.

Indonesia tetap membutuhkan angkatan intelektual yang bukan saja kaya akan konsep-konsep ilmiah, namun juga mau terjun langsung ke lapangan. Angkatan Intelektual Indonesia bukanlah cendekia yang yang tinggal di “Menara Gading” dan tidak memperdulikan kondisi masyarakat yang hidup di dasar menara. Seorang mahasiswa sebagai angkatan intelektual haruslah siap bagaikan “pertapa yang turun dari tempat pertapaan mereka di gunung-gunung sepi untuk mengabdi pada rakyatnya”. Artinya, hasil kontemplasi pemikirannya sebagai pertapa yang menimba ilmu di unversitas diimplementasikan atau diwujudkan dalam pemikiran dan tindakan nyata di masyarakat.

Kita adalah harapan bagi masa depan bangsa. Tugas kita semua adalah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk mengambil peran dalam proses pembangunan untuk kemajuan bangsa kita di masa depan. Estafet kepemimpinan di semua lapisan, baik di lingkungan suprastruktur negara maupun di lingkup infrastruktur masyarakat, peluangnya terbuka luas untuk kita, sebagai angkatan muda Indonesia. Namun bayangkanlah, jika semua angkatan muda terjebak pada hegemoni kemaksiatan, terpenjara dalam romantisme sejarah, tetapi tidak mampu merealisasikan ide-ide yang baik karena ketiadaan kemampuan teknis, keterampilan manajerial untuk merealisasikannya, sungguh tidak akan ada perbaikan dalam kehidupan kebangsaan kita ke depan.

Dengan demikian, rakyat Indonesia telah menunggu pemuda yang kritis dan berani berteriak lantang menjawab pertanyaan-pertanyaan, tidak takut melawan ketidakadilan dan ketidakjujuran di bumi pertiwi ini, oleh tokoh baru dengan tantangan baru. Rakyat mencari dan berharap kehadiranmu “Soe Hok-gie jilid II”. Bravo Indonesiaku!!

*Hilman Rasyid -Mahasiswa PBA UPI Bandung dan Wakil Ketua Dept. KAIS KEMABA UPI ‘11
Sekum HIMA Persis UPI

Kamis, 24 November 2011

Kuatnya Penjajahan Sistemik


Pada naluritasnya manusia diciptakan oleh Allah dengan mencintai 3 hal : Istri, anak dan harta benda. Kecintaan kepada tiga hal tersebut dalam ajaran Islam dinilai bukan merupakan sebuah kesalahan atau penyimpangan, melainkan pembawaan atau naluri insaniyyah. Hal tersebut dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya : 

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini (Syahwat), yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).  (QS. Ali Imran : 14)

Dalam Kitab Tafsier Al-Wadih dijelaskan bahwa syahwat adalah emosi yang timbul dalam jiwa disebabkan ada dorongan untuk mengemukakan suatu pendapat atau  keperluan agar ia bisa merasakannya atau menikmatinya.

Ajaran Islam memang tidak melarang kita untuk mencintai tiga hal tersebut. Tetapi yang diwanti-wanti dalam ajaran Islam adalah : Pertama, jangan sampai kecintaan itu berubah menjadi sebuah penyakit, yang disebut penyakit “Hubbud Dunya“ , dimana salah satu cirinya,  orang itu tidak diberi rasa tumaninah dan betah dalam ibadah, misalnya berdo’a dan shalat tidak bisa tumaninah dan khusyu’, selalu resah dan terburu-buru, hadir pada Jum’atan dan pengajian  selalu ingin cepat selesai karena fikiran dan perasaan selalu terganggu oleh urusan harta dan dunia.   
Kedua, Islam melarang jangan sampai akibat dari kecintaan yang berlebihan, membuat kita lupa dzikir kepada Allah, seperti diingatkan oleh Allah : 
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. Al-Munafiqun : 9)

Lupa dzikir kepada Allah bisa dalam pengertian lupa beribadah dan bersyukur kepada Allah. Kita sering menyaksikan ada orang yang karena kecintaan kepada harta benda, sampai harus bekerja keras, banting tulang,  peras keringat, pergi pagi pulang  malam,  hingga lupa shalat, tak sempat  ngaji, sehingga shalat jum’at yang hanya sekali dalam seminggupun ia sudah tidak bisa menunaikannya.  Tidak jarang orang yang seperti itu akhirnya menjadi orang kaya dan urusan akhirat tertinggal.

Lupa dzikir kepada Allah bisa juga dalam pengertian melupakan hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya. Banyak orang yang dalam upaya memenuhi kecintaan kepada wanita, harta atau anak keturunan tidak memperdulikan lagi batas-batas halal dan haram, hak dan bathal. Merajalelanya prostitusi di segala strata masyarakat dengan segala bentuk dan akibatnya, Mewabahnya korupsi, dan kolusi. Untuk masuk sekolah, untuk diterima sebagai pegawai, untuk naik pangkat, untuk dapat jabatan, tidak bisa dilakukan kecuali harus dengan main suap. Orang merasa tidak bisa hidup layak, kaya dan senang kecuali dengan korupsi, mencuri, menipu, berjudi, menjual diri, dsb. Dalam kaitan ini Nabi saw.  mengingatkan :"Akan datang kepada manusia suatu zaman dimana orang tidak bisa hidup pada masa itu kecuali dengan maksiat, sampai orang harus berdusta dan bersumpah." (HR. Ad-Dailami dari Anas ra.)
Dalam hadits lain Nabi saw bersabda : 

ياءتى على الناس زمان همهم بطونهم وشرفهم متاعهم ,و قبلتهم نساءهم , ودينهم دراهمهم  و دنانيرهم , أولئك شر الخلق لا خلق لهم عند الله – ر السلمي عن علي

"Akan datang suatu masa dimana prioritas (Jadi fikiran, obrolan hidup) mereka adalah isi perut, (hanya buthun dan tidak perduli soal bathin, alias rohani) yang memuliakan mereka harta mereka; (Orang dipandang mulia dan sukses, hanya karena banyak hartanya, tinggi kedudukan sosialnya, regel titrel dan balatak gelarnya);  kiblat mereka (yang menjadi pusat perhatian, arah fikiran  adalah syahwat kepada ) perempuan, agama mereka (yang dipertuhan, sehingga berkeluh kesah, bukan Allah, melainkan) dirham dan dinar (rupiah dan dolar) ; Mereka itu adalah sejelek-jelek makhluk, mereka tidak akan mendapat bagian di sisi Allah. (Kelak di kemudian hari)"  ( HR. As-Sulami dari Ali ra – Jam’ul Jawami’  9 : 200 )

Hadits ini mengingatkan kita bahwa akan datang suatu masa dimana yang jadi target hidup hanyalah kesenangan duniawi semata, duit, isi perut, wanita, dan tahta. Mereka mengira akan kekal di dunia, mereka lupa akhirat, lupa akan hisaban Allah.
Pada beberapa dekade terakhir ini saja, manusia yang menghambakan diri dengan uang atau mempertuhankan harta benda telah menjadi sebuah paham dan kekuatan global yang dengan giat berusaha menularkan wabah dan virus tersebut kepada setiap individu di seantero dunia. Sebuah kekuatan bernama “Kapitalisme Sekuler“. Sebuah sistem yang telah menjadi kekuatan imperialisme baru atau “Neo Imperialisme”. Adam Smith mengatakan :  “ Jika tukang daging menjual dagingnya kepada anda, itu bukan berarti dia belas kasihan kepada anda, melainkan karena dia mengejar keuntungan sendiri. Bicara uang, karena hidup adalah uang. Itulah cita-cita kapitalisme dan liberalisme.”

Kita menyaksikan sebuah proses yang sistemik, bagaimana “War Againts Terrorism“ (Perang Melawan Terorisme) telah bergeser menjadi “War Againts Islam“  (Perang Melawan Islam). Mereka dengan berbagai cara melakukan demonologi Islam (penyetanan Islam), memberikan stigmanisasi, Pencitraan buruk terhadap Islam, dengan  menempatkan Islam sebagai bahaya, jahat, kejam dan menjadi sebuah ancaman yang menakutkan. Dengan drama 11 September 2001 yang dinilai penuh rekayasa, dimana salah satu symbol kapitalisme yakni gedung WTC di New York runtuh, Islam telah diposisikan sebagai musuh baru Kapitalisme pasca runtuhnya Uni Soviet.
Dalam konteks ekonomi global, terutama pasca era Perang Dingin, negara-negara dunia ketiga termasuk Indonesia, yang penduduknya mayoritas muslim berbondong-bondong menerapkan sistem ekonomi kapitalis dan demokrasi liberal. AS dan negara-negara sekuler Barat dijadikan sebagai model atau contoh dengan sebuah harapan, akan mendapatkan kemajuan, kemakmuran duniawi, keadilan dan stabilitas. Kapitalisme dan Demokrasi Liberal dianggap seolah-olah sebagai satu-satunya ideologi yang dapat mengangkat negara dan bangsa dari jurang kemiskinan, ketidak-adilan, dan ketertinggalan, ke arah kemakmuran, kedamaian dan kemajuan. 
Imperialisme merupakan tujuan dari negara-negara kapitalis untuk menguasai negara-negara lain melalui cara-cara yang tidak langsung, alias imperialisme non fisik. Ada kecenderungan nyata, di negara-negara Dunia Ketiga yang mencoba menerapkan model kapitalisme dan demokrasi liberal sebagai pijakan sistem ekonomi dan politiknya, justru malah mengalami kondisi yang semakin memprihatinkan. Kemiskinan, keterbelakangan, pengangguran, ketimpangan sosial, konflik horizontal dan vertikal, korupsi akut, kerusakan lingkungan, pelanggaran HAM, dan krisis moral degradatif yang semakin parah dan berdampak sangat buruk.

Kapitalisme global telah mempromosikan dan menularkan wabah : Individualisme (egoisme alias ananiyyah, tidak perduli terhadap sesama apalagi kaum dlu’afa); Materialisme (segala sesuatu selalu diukur dengan uang dan materi, mata duitan); Konsumerisme (segala maunya dibeli dan dimiliki, hawek dan mak-mak mek-mek); Permisifisme (Tidak perduli terhadap nilai dan hukum agama, tidak mengindahkan batas halal haram, hak dan bathil) dan Hedonisme ( kesenangan duniawi semata yang jadi tujuan dan kejaran). 
Anthony Gidden menyatakan bahwa kapitalisme global telah merombak tatanan kehidupan masyarakat. Perombakan ini bukan hanya pada tataran sosial, ekonomi, dan politik. tapi juga pada tataran nilai. Yang dikejar hanya kesenangan duniawi semata, mereka tidak lagi memperdulikan tatanan dan norma serta nilai-nilai agama. Merajalelanya patologi sosial (penyakit masyarakat) seperti: prostitusi, bisnis esek-esek, mafia perjudian, korupsi, aborsi, minuman keras dan narkoba, sudah sampai pada titik nadir yang sangat memprihatinkan. 

Di bidang media massa kita menyaksikan ada tiga fenomena mendasar. Secara Sosial, telah terjadi rekayasa sosial (Social engineering) yang disengaja untuk mentransformasikan atau mengubah masyarakat kita menuju masyarakat sekuler-liberal , Masyarakat yang menjauhkan agama dari wilayah kehidupan publik, agama hanya dianggap sebagai urusan pribadi dengan Sang Khaliq, tidak boleh dibawa-bawa ke urusan ekonomi, sosial, politik maupun budaya.  Secara Ekonomi, membuktikan bahwa kaum kapitalis telah menguasai banyak media massa, baik koran, majalah terutama TV, demi uang semata. Kita menyaksikan bagaimana eksploitasi pornografi, pornoaksi, dan hal-hal yang berbau mistik, takhayyul, dan syirik; dengan bungkus istilah-istilah Islam,  demi mengeruk keuntungan materi semata, tanpa peduli terhadap dampak buruk bagi akidah dan akhlak masyarakat. Kalau saya ambil istilah Yoga (Ketua PD HIMA Persis  Kota Bandung) nilai yang didapatkan cuma Eksploitasi Seksualitas dan Eksploitasi Hedonisme,. Media massa sa’at ini mayoritas bukan sekedar sebagai media hiburan, tapi telah punya andil besar dalam meruntuhkan dan menghancurkan nilai-nilai moral, etika, dan agama. Sementara banyak pemuka agama ikut memberi legitimasi terhadap berbagai kemunkaran tersebut, dan masyarakatpun sering tidak menyadarinya, apalagi berusaha untuk menghindarinya, paling tidak usaha meminimalkannya.  Dan Secara Politik, apa yang terjadi di media massa saat ini menunjukkan bahwa pemerintah, termasuk di dalamnya kalangan legislatif dan yudikatif, tanggung jawab terhadap masalah akidah dan akhlak masyarakat relatif masih sangat rendah.

Rentetan musibah, berupa krisis ekonomi berkepanjangan, mewabahnya berbagai penyakit yang menakutkan, seperti Flu Burung, Demam Berdarah, Malaria, HIV/AIDS, dsb;  banyaknya kecelakaan, serta bertubi-tubinya bencana alam, dengan korban jiwa dan harta yang tak terhingga,  nampaknya belum cukup kuat untuk menyadarkan banyak orang dan banyak pihak, untuk menyadari segala kekeliruan, kesalahan dan dosa, kemudian mendorong diri untuk lebih taqarrub kepada Allah, bertaubat atas segala kesalahan dan dosa, serta bersyukur atas segala nikmat dan karunia-Nya.  Allah swt sudah  mengingatkan :”Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". ( QS. Thaha : 124 )

Belakangan ini, Liberalisme yang merupakan produk atau anak kandung dari kapitalisme, bukan hanya telah mewarnai bidang sosial, politik dan ekonomi, tapi juga telah masuk ke wilayah agama. Dengan munculnya paham dan agama baru bernama “Pluralisme Agama”.  
Kebebasan adalah nilai asing yang secara sistemik dicekokkan  ke dalam tubuh masyarakat muslim. Pluralisme Agama adalah paham bahkan agama baru yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama, semua menuju jalan kebenaran, menuju tuhan yang  satu, tuhan yang sama.  Dan karenanya kebenaran semua agama relatif, tidak mutlak. Oleh sebab itu setiap penganut agama  tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar, sedangkan agama lain salah.  Pluralisme Agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama kelak di akhirat akan berdampingan di surga .

Munculnya sebuah konsep Hukum Islam yang terkait dengan masalah : Kewarisan, Perkawinan dan Wakaf, yang disusun bukan merujuk kepada Al-Qur’an, As-Sunnah dan Fikih Islam, tapi lebih berdasarkan kepada : HAM, Demokrasi, Kesetaraan Gender dan Pluralisme Agama. Konsep itu berisi antara lain : Bolehnya nikah beda agama; batalnya poligami tapi sahnya nikah kontrak; penyamaan hak warits laki-laki dan wanita; serta adanya hak warits bagi ahli warits yang berbeda agama, dsb. 

Munculnya kasus “Aminah Wadud“ dkk. Yang menyelenggarakan  jum’atan di Katedral (Gereja Agung) milik keuskupan Manhatan, New York, dengan muadzin, khatib dan imamnya wanita, dengan jama’ah campuran laki-laki dan wanita, dengan shaf sejajar antara laki-laki dan wanita, dengan sebagain jamaah wanitanya tidak menutup aurat.

Munculnya kasus shalat dengan dua bahasa yang dilakukan oleh komunitas Pondok I’tikaf Ngaji Lelaku, pimpinan M. Yusman Roy, mantan petinju, di Malang. Munculnya kelompok yang menghujat dan menggugat otentisitas (keaslian) al-Qur’an. 

Semua yang disebutkan di atas menjadi bukti betapa liberalisme di bidang agama sudah sampai pada tingkat yang memprihatinkan dan membahayakan sekali. Mereka juga mengusung pendekatan hermeneutik dalam menafsirkan ayat al-Qur’an, mengikuti tradisi Yahudi dan Kristen dalam menafsirkan kitab suci mereka.  Sebuah tafsier yang katanya bukan hanya memahami makna kata dan kalimat, tapi juga memasukkan unsur-unsur historis dan sosio budaya. Sehingga Khamer atau Miras bisa jadi halal  bagi penduduk daerah bersuhu dingin, karena dulu khamer diharamkan bagi penduduk bersuhu udara panas, dan berwatak temperamental (mudah marah).  Babi bisa jadi halal jika jumlahnya banyak dan harganya murah, dengan argumen babi dulu diharamkan karena babi di sana jarang dan harganya mahal.

Kita tahu, tugas para ulama dan da’i adalah untuk membimbing umat, memberi pencerahan, dan menunjukkan kepada mereka tentang mana yang hak dan bathil, mana yang halal dan haram, yang ma’ruf dan munkar, yang benar dan sesat. Itulah tugas kenabian yang diamanahkan kepada para ulama sebagai pewaris Nabi saw. Tidaklah pada tempatnya jika para ulama atau cendekiawan muslim malah membuat umat menjadi bingung, ragu dan sesat, dengan membuat statement dan tasykik yang tidak sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah. Lantas kalau tidak bisa membedakan dan meyakini mana yang benar dan sesat, mana yang ma’ruf dan munkar, kapan dan tugas siapakah melakukan kewajiban amar ma’ruf dan nahi munkar itu ? Rasulullah saw pernah mengingatkan : 
“Di akhir zaman akan muncul sekelompok orang muda usia, tapi akhlaknya buruk, mereka berbicara tentang al-Qur’an, tapi sudah lepas dari ajaran islam, seperti lepasnya anak panah dari busurnya. Iman mereka  tidak melewati tenggorokannya (hanya sampai di bibir tidak masuk di hati). Jika kamu bertemu dengan mereka perangilah mereka, sesungguhnya memerangi mereka akan mendapat pahala pada hari kiamat.” (HR. Ahmad dan Al-Bukhari).

Dalam hadits lainnya Nabi saw mengingatkan : 
“Kalian akan benar-benar mengikuti (mengekor) perilaku orang-orang sebelum kamu setapak demi setapak, sampai kalau kamu diajak masuk ke lubang yang sempit  sekalipun oleh mereka, pasti kamu akan mengikutinya.” Para Sahabat bertanya :  “Apakah yang dimaksud mereka itu Yahudi dan Kristen ?” Nabi saw menjawab : “ Siapa lagi ? “ ( HR. Ahmad dan Al-Bukhari )

Apa yang diingatkan Nabi saw itu kini kita saksikan dan rasakan sendiri, bagaimana kalangan kaum muslimien termasuk kalangan cendekiawannya secara sadar atau tidak, telah dengan rela dan senang hati menjadi budak mereka, mengikuti segala tradisi, dan misi mereka, bukan hanya dalam masalah akhlak dan muamalah keseharian semata, tapi hampir dalam segala aspek kehidupan, baik itu sosial, ekonomi dan politik, termasuk dalam masalah agama, dalam cara menafsirkan al-Qur’an, dsb. 

Kita telah menyaksikan dan merasakan akibat suasana kehidupan yang  semakin jauh dari nilai-nilai Islam. 
Di bidang Ekonomi : Ekonomi kapitalistik, sistem ekonomi yang sarat dengan hal-hal yang diharamkan dalam Islam, seperti : riba, gharar, riswah (suap) dan telah melahirkan konglomerasi, monopoli dan yang telah memperlebar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, jauh dari suasana ekonomi yang dikendaki oleh Allah dalam QS. Al-Hasyar : 7.  
Di Bidang Politik : Politik oportunistik, orang berlomba mendapatkan jabatan dan kedudukan, bukan dalam rangka dakwah, bukan demi kemaslahan dan kesejahteraan bersama, tapi lebih  karena vested interest dalam rangka memenuhi ambisi pribadi dan dalam rangka memperkaya diri dan kroni. 
Di Bidang Budaya : Budaya hedonistik, yang jadi target hanya pemuasan nafsu hewani, budaya Barat jadi Kiblat, apa yang datang dari Barat dinilai pasti baik, pasti benar. Sementara nilai-nilai Islam dinilai Old Fashion, kuno dan Out of date
Di Bidang Sosial : suasana kehidupan yang egoistik dan individualis semakin kentara, orang-orang kaya dan berada,  semakin banyak yang tidak perduli terhadap kaum dlu’afa. Bakhil alias kikir.  Segala apa yang telah dimilikinya tidak disadari sebagai sebuah amanat disamping nikmat. Malah bisa jadi laknak jika dengan kekayaan dan kejayaan itu dia semakin genah batah dalam maksiat dan durhaka kepada Allah.  
Di Bidang Pendidikan : Pendidikan yang materialistik, hasil pendidikan itu harus terukur dengan materi dalam bentuk : gelar, jabatan, dan uang. Pendidikan dinilai gagal melahirkan manusia sholeh yang menguasai Iptek. Manusia yang cerdas dan takwa serta tawadlu’. Banyak orang yang semakin tinggi pendidikannya, bukan berilmu padi, kian berisi kian runduk, melainkan semakin jocong dan sombong, menampilkan arogansi intelektual dengan melakukan ghamtun-nasi, melecehkan dan merendahkan orang lain.  
Di Bidang Agama : Agama yang sinkristik, dengan semakin mewabahnya mistikisme, tetap merajalelanya tahayul, bid’ah dan khurafat (TBC), menjamurnya aliran sesat dan menyesatkan dengan para pengasong dan suporternya;  serta semakin mewabahnya  virus Pluralisme Agama. 

Wahai Ikhwah fillah ! inilah tugas kita yang belum terselesaikan dan hampir terlupakan dan tak tersadari. Semoga catatan ini bisa menjadi sebuah intelegensi, stimulasi bagi semangat kita, sebuah inspirasi untuk melakukan perubahan baik sikap maupun ucapan. Aamien

Wallahu ‘alam

Rabu, 16 November 2011

Shalat : Sebuah Ritual Menuju Indonesia yang lebih Sejahtera


Shalat adalah salah satu ibadah yang diperintahkan dalam Islam. Nabi Saw menerangkan bahwa shalat merupakan tiang agama; barang siapa yang mendirikan shalat maka ia telah mendirikan agama, dan barang siapa yang meninggalkan shalat maka ia telah merobohkan agama. Dalam beberapa kajian kepesantrenan-pun dibahas bahwa perbedaan antara muslim dan non-muslim adalah shalat.
Jika kita perhatikan, efek dari shalat ini sangatlah besar, terutama pada keseharian seorang muslim. Kita bisa mengetahui bagaimana kualitas kehidupan seorang muslim dari shalatnya, semakin baik shalatnya, maka semakin baik kualitas kehidupanya. Allah berfirman :
“Tahukah kamu(orang) yang mendustakan agama?Maka itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dalam shalatnya. Yang berbuat ria. Dan enggan memberi bantuan. (al-Ma’un [107]:1-7)
Jika mengingat apa makna pada ayat empat dan lima, “Maka celakalah orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dalam shalatnya”  dalam tafsir al-maraghi dikemukakan bahwa orang yang shalatnya tidak membekas didalam jiwanya sedikitpun dan tidak membuahkan hasil dari tujuan shalat akan disiksa, yakni orang yang shalat hanya sebatas gerakan badan saja. Hal ini karena hatinya kosong, tidak menghayati apa yang dikatakan oleh mulutnya, dan shalatnya tidak membekas atau berpengaruh terhadap tingkah lakunya.
Mari kita lihat bagaimana kenyataan yang terjadi di negri yang makmur dan orang menjuluki negri ini “sepotong tanah dari surga”
Indonesia hari ini adalah warga Indonesia yang begitu konsumtif, mewah dan modis. Saat kita melihat generasi muda, kita menemukan pemuda yang ambisius dan matrealistis. Saat kita mmperhatikan para remaja, kita bosan dengan update status situs jejaring sosial yang memuat hal- hal tidak terlalu penting yang notabene adalah curhatan pribadi, saat kita mengalihkan perhatian pada orang tua kita, kita mendengar kasus korupsi, kisruh politik atau kasus penyalahgunaan jabatan.
Para pemuda sebagai “pewaris tahta” Indonesia terkelabui dengan harapan-harapan sekolah cepat kerja atau sekolah dengan mengharap nantinya mendapat gaji yang besar, hal ini adalah pola pikir yang umum terjadi pada pemuda hari ini. begitu pula dengan para remaja yang terbius dengan pergaulan gaya barat yang mementingkan penampilan luar semata. Hari ini kita menemukan para remaja yang tergila-gila pada aktor atau aktris dalam maupun luar negri. Sosok para ilmuwan, guru kelas yang mengajar mata pelajaran biologi tidak lagi dipandang keren dimata mereka, atau malah Nabi Muhammad Saw, orang yang paling pantas diteladani dan orang barat sekalipun mengakuinya tidak menjadi rujukan dari kehidupan. Atau ayah dan ibu kita yang hari ini duduk di kursi pemerintahan bekerja dengan sepenuh hati melayani rakyat harus dinodai dengan para oknum pejabat yang lebih senang berbohong dan mengantongi pajak rakyat yang dikeluarkan dengan keringat dan darah.
Inilah negeri Indonesia, negara muslim terbesar di dunia, negara dengan sumber daya alam yang luar biasa, sekaligus rakyat yang tidak sejahtera.
Kita perlu menyadari mulai dari diri kita sendiri, sejauh mana kualitas shalat kita?sejauh mana dampak shalat bagi diri kita?mungkin keadaan Indonesia yang tidak membaik adalah karena diri kita yang tidak mau menyerukan kebajikan satu sama lain.
Banyak makna yang terkandung dalam shalat, saat kita sujud, wajah dan kaki kita sama rata tidak ada yang membedakan mana yang lebih tinggi mana yang lebih rendah. Mungkin saja dalam kehidupan sehari-hari kita lupa dan sering menganggap rendah orang lain karena kita mengenakan baju yang lebih cerah warnanya daripada teman sekelas kita, atau menganggap remeh pada orang tua yang sedang berjualan dikios buah-buahan yang mereka tidak menginjak bangku universitas seperti yang kita alami, atau memelototi pelajar SMA dengan alasan kita sudah berstatus mahasiswa. Hal ini terjadi karena kita melupakan esensi dari shalat itu sendiri.
Kita begitu merindukan keadaan ekonomi Indonesia yang stabil, anak-anak kecil berpakaian putih merah dengan topi dan dasi kecil berlarian menuju sekolah dasar tanpa merisaukan bagaimana mereka membeli buku tulis dan pensil, atau para mahasiswa yang penuh semangat memasuki gedung fakultas tanpa khawatir akan di-cuti-kuliahkan karena kekurangan biaya.
Andai saja muslim Indonesia melaksanakan shalat sesuai dengan apa tujuan shalat itu, tentu kita tidak akan se-menyedihkan ini, andai mereka bisa memaknai sujud jauh lebih baik, tidak akan ada perbedaan status ekonomi dan sosial yang meruncing, andai saja shalat kita berdampak pada perbuatan kita sehari-hari, kasus korupsi akan menyusut dengan cepat, kejahatan akan mudah untuk di-identifikasi, Indonesia akan lebih lebih baik. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosa kita semua dan memasukan kita kedalam orang-orang yang khusu’.Aamiin. Wallahu a’lam. (dikutip dari : Portal Dunia Trias)