HIMA PERSIS

qrcode

Senin, 14 November 2011

Ketika Pendidikan Telah Melahirkan Mental Bangsa yang Pragmatis

“Semua yang kita lakukan bukan hanya karena suka atau tidak suka, nyaman atau tidak nyaman, tetapi apa yang kita lakukan itu karena suatu nilai yang kita inginkan. Walaupun kemanfaatannya kita rasakan, tetapi jika tidak sesuai dengan nilai, apalah artinya ??”

Hiruk pikuk dasawarasa ini, kita disajikan dengan berbagai santapan wacana dan problematika pendidikan di Indonesia, diantaranya tentang komersialisasi pendidikan, liberalisasi pendidikan, pragmatisme pendidikan dll. Namun saya merasa aneh ketika melihat pendidikan di Indonesia yang tidak sedikit telah melahirkan mental-mental bangsa yang pragmatis. Padahal semua orang tahu bahwa kemajuan suatu bangsa tergantung pada kualitas pendidikannya, dan sebaliknya kehancuran suatu bangsa disebabkan buruknya mutu pendidikan bangsa tersebut  Dan mungkin keanehan itu timbul dikarenakan keterbatasan ilmuku sebagai Calon Sarjana Pendidikan. Dan mungkin nama saya telah tercantum sebagai salah satu orang yang telah diracuni oleh kaum pragmatis.

Pragmatisme adalah kepercayaan bahwa kebenaran atau nilai suatu ajaran (paham, doktrin, gagasan, pernyataan, ucapan, dll) bergantung pada penerapannya bagi kepentingan manusia. Pragmatisme mengajarkan kita sebuah pendekatan terhadap masalah hidup apa adanya dan secara praktis, bukan teoritis atau ideal dan kemudian hasilnya dapat dimanfaatkan. Bagi mereka, baik-buruknya perilaku dan cara hidup dinilai atas dasar praktisnya, hasilnya, dampak positifnya, manfaatnya bagi yang bersangkutan dan dunia sekitarnya. Pragmatis dapat lahir sebagai tanggapan kekecewaan terhadap kenyataan hidup yang ada. Mereka selalu berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan secara instan, praktis, karena dalam otak masyarakat pragmatisme telah dihinggapi oleh penyakit matrealisme. Dan untuk mencapai sebuah matrealismenya, ‘si pragmatis’ mengejarnya dengan berbagai cara, tanpa mempedulikan yang lain. Mereka bekerja tanpa mengenal batas waktu hanya untuk mengejar kebutuhan materinya secara seketika, maka dalam struktur masyarakatnya ia pun hidup menjadi orang yang egoistik individualis (hedonisme).

Kemanfaatan dan sebuah nilai memang perlu diakui ke-eksistensinya yang sangat begitu urgent dalam kehidupan, sehingga manfaat dan nilai tidak bisa dipisahkan secara konkret dalam bentuk idealitasnya. Manfaat dan nilai menjadi satu padu dalam idealitas ideologi pragmatis-humanis. Dan ideologi ini telah merasuk dan meracuni siapapun yang terjerumus dalam sistem hegemonik kehidupan modern dan globalisasi. 

Teringat dengan sebuah statement Dr. Anis Malik Thoha yang menyatakan bahwa “Pendidikan adalah karakter, bukan sekedar apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui “ (Koran Pikiran Rakyat)

Saya pribadi sangat setuju dengan statement beliau diatas. Pendidikan memang bukan hanya sekedar apa yang diketahui dan tidak diketahui, tetapi pendidikan memiliki makna yang bersifat universal dan komprehensif. Menurut UU RI no. 17 tahun 2007 menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah terwujudnya karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan bermoral berdasarkan pancasila, yang dicirikan dengan watak dan perilaku manusia dan masyarakat Indonesia yang beragama, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, dan berorientasi iptek. Mantan Menteri Pendidikan Daoed Joesoef menilai bahwa saat ini telah terjadi ‘penghianatan intelektual’. Kaum Intelektual (kaum terdidik) sebenarnya tahu sedang terjadi penghancuran moral dikalangan birokrasi pemerintahan, penegak hukum dan masyarakat, tetapi mereka diam saja. Padahal intelektual semestinya mencerahkan masyarakat. (Kompas, 21/6)

Dan tujuan pendidikan bukanlah untuk mencari selembar kertas bernama Ijazah, bukan juga untuk mencari point diatas kertas dan bukan untuk memenuhi tuntutan dunia kerja serta kesuksesan sebuah proyek semata. Kalaulah itu tujuannya, maka terlalu banyak waktu dan biaya yang kita habiskan. Apalagi sekarang kita hidup di era modern ini, sudah banyak media informasi dan pengetahuan berupa internet, majalah, televisi, radio dan berbagai media pembelajaran yang lebih murah meriah bahkan gratis. Tetapi kalau dilihat secara faktual, tidak sedikit kaum pelajar yang kecewa ketika mendapatkan nilai yang tidak adil, seolah nilai tersebut sebagai harga mati mereka. Dan mungkin itulah nilai, sebuah kata yang sederhana dan seringkali tidak adil, namun bisa membunuh karakter seseorang (character killing). Dan ketika nilai itu menjadi tujuan, maka menyontek pun menjadi sistem yang baik bagi si pragmatis. 
Pengajaran bukan pendidikan. Pengajaran hanya bagian kecil dari pendidikan. Pengajaran hanya bersifat transfer ilmu dan keterampilan. Sementara pendidikan membentuk sikap dan perilaku serta kepribadian. Begitu pula sekolah, sekolah bukan pendidikan, tetapi sekolah hanya salah satu sarana pendidikan. Maka ini merupakan salah satu peluru bagi si pragmatis untuk mendapatkan pembenaran, ‘bahwa tidak perlunya sekolah’.

Kemudian timbul suatu pertanyaan, “Apakah semua pelajar itu pragmatis ?” Tentu jawabannya Tidak. Karena tidak semua orang yang sekolah punya pemikiran apa yang kita bayangkan. Tidak semua orang yang sekolah berorientasi cari uang, dapat kerja, dapat ijazah, dapat gelar, dapat fasilitas, bisa kaya, dan sebagainya. Begitu pula sebaliknya tidak semua orang yang tidak sekolah itu jelek, lihatlah Buya Hamka dan Adam Malik mereka orang yang sukses dengan otodidak, bahkan Thomas A. Edison yang dipecat dari sekolah karena dianggap bodoh, ternyata bisa menemukan ribuah hasil penemuannya.

Jika kita berorientasi ke negara Indonesia, telah terjadi degradasi moral bangsa Indonesia, karena tercermin dengan semakin kronisnya penyakit yang bernama korupsi. Dan tentu saja memunculkan suatu pertanyaan “Mengapa pendidikan di Indonesia belum mampu melahirkan mental para birokrat yang bersih ?” tentu jawabannya tidak lain dikarenakan sistem pendidikan di Indonesia masih diwarnai dengan berbagai kesalahan, dan salah satu problematikanya adalah telah maraknya pragmatisme pendidikan di Indonesia. Dan kecenderungan pragmatisme pendidikan tersebut disebabkan karena pendidikan yang berkembang tidak lebih dari sekedar untuk memenuhi tuntutan dunia kerja semata. 
Di akhir bulan Mei 2011 ini saja, kita tahu hasil proses Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) melalui jalur undangan atau seleksi berdasarkan prestasi akademik tinggi di SLTA/se-derajat telah diumukan. Dan menurut Kemendiknas, peserta yang dinyatakan lolos jalur undangan sebanyak 46.706 orang dan itu sekitar 20,04 % dari total pendaftar, sedangkan jumlah semua adalah 232.948 orang. Ternyata tidak terlalu banyak peserta yang diterima lewat jalur seleksi nasional yang sempat berganti-ganti nama dari sipenmaru, umptn, spmb dan akhirnya menjadi SNMPTN. Dan nampaknya dalam setiap SNMPTN calon mahasiswa berbondong-bondong dan berebut untuk masuk di Jurusan yang menjanjikan kemakmuran dan kemudahan materi. Dan ternyata itu logis juga, karena setiap orang pasti menginginkan kemakmuran dalam hidupnya. Namun yang menjadi kegundahan, “Begitukah hasil pendidikan di negeri ini?” hanya menghasilkan mental-mental generasi bangsa yang pragmatis.

Dengan demikian kaum pragmatis menjadikan pelakunya senantiasa bersikap oportunitis dan hipokrit. Bagi mereka yang terpenting bukanlah mempertahankan idealisme dan ideologi, melainkan untuk mendapatkan keuntungan dari tindakan yang mereka lakukan. Dan ini menyisakan tanda tanya besar, “Ada apakah dengan sistem pendidikan di Indonesia ini ? Apakah sudah ada solusi konkret yang telah pemerintah lakukan khususnya dalam bidang pendidikan?” Seharusnya pendidikan di negeri ini mampu menumbuhkan mental bangsa yang ‘arif dan bijaksana dan bukan sebaliknya, malah menumbuhkan atau melahirkan bangsa yang pragmatis dan oportunitis. Dan negara akan semakin terpuruk jika tidak mampu mengembalikan disorientasi pendidikan ini. Oleh karena itu saatnya rakyat Indonesia, khususnya Umat Islam meninggalkan paradigma kaum pragmatis. Maka mari kita menjadi rakyat yang idealis, yang setia kepada kebenaran dan ideologi, bukan mencari keuntungan sesaat.

Mudah mudahan kita menjadi orang yang ‘arif dan bijak, sehingga bisa melahirkan solusi yang lebih konkret dan konstruktif dalam mengatasi berbagai kancah dan problematika NKRI, khususnya dalam bidang pendidikan. Aaamien

Wallahu a’lam

*Sekretaris Umum HIMA Persis PK UPI

0 tanggapan:

Posting Komentar